Sovereignty of White Pepper Farmer and Environment of Settlement Ex Tin-Mine Area in Archipelago – Bangka Belitung Province
Pendahuluan
Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan.
Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan baker fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan baker fosil dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah. Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harusnya melibatkan seluruh stakeholder baik pemerintah, swasta, dan yang paling penting adalah masyarakat lokal. Masyarakat disekitar hutan, maupun masyarakat yang berada dekat dengan lokasi industri adalah aktor kunci dalam penyelamatan perubahan iklim karena berhubungan secara langsung sebagai tempat mencari makan dan sudah mempunyai tata kelola yang arif yang telah diturunkan secara turun menurun oleh nenk moyang mereka.
Sebagian besar, kota-kota di negeri ini yang berpenduduk padat berada di daerah pesisir pantai. Kota-kota ini beberapa dekade mendatang terancam akan tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.
Estimasi laju kerusakan Lingkungan di bangka
Menurut data 2006, cadangan bijih timah di Indonesia mencapai 355.870 ton. Angka itu terdiri atas 106.068 ton di darat dan 249.802 ton di lepas pantai dan sebagian besar cadangan timah tersebut terletak di Pulau Bangka. Tahun lalu, produksi bijih timah PT Timah Tbk mencapai 58.086 ton. Mayoritasnya, yakni 46.078 ton ditambang di darat dan hanya 12.008 ton yang digali dari lepas pantai. Karenanya, di tahun-tahun mendatang PT Timah Tbk akan mengkonsentrasikan penambangan di daerah lepas pantai. Apalagi biaya produksi pertambangan di lepas pantai jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pertambangan di darat. Tahun 2007 saja, PT Timah Tbk mengeluarkan Rp 724 miliar untuk biaya produksi pertambangan di darat (inilah.com, 2008). Selain itu, dari segi dampak lingkungan penambangan lepas pantai yang timbul tidak terlalu parah karena dilakukan minimal dua mil dari pantai.
Sejak Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis, Bupati Bangka saat itu, Eko Maulana Ali, sekarang Gubernur ke-3 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memberikan izin aktivitas penambangan skala kecil atau tambang inkonvensional (TI). Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, jumlah TI darat membabi buta di Pulau Bangka lalu menular hingga ke bumi laskar pelangi, Pulau Belitung. Selain itu beroperasi pula beberapa perusahaan peleburan (smelter) timah sekala menengah di Pulau Bangka membuat persaingan pertambangan timah di darat semakin tinggi.
Beberapa Perusahaan yang mendapat kuasa pertambangan diantaranya ;
|
No. |
Nama Perusahaan |
Jumlah Kapal Keruk |
Produksi |
Target operasi |
| 1. | PT. Timah Tbk | 14 kapal | 80 ton timah setiap 8 jam, | Peningkatan produksi 50 % |
| 2. | PT. KOBATIN | 15 Kapal | 100 ton/ 8 jam | Peningkatan 80 % |
LADA Sebagai Komoditas Lokal
Indonesia adalah salah satu negara terbesar dan eksportir lada putih di dunia. Produksi lada putih Indonesia yang dihasilkan lebih besar dari Provinsi Bangka Belitung merek dagang “Muntok White Pepper”, telah dikenal sejak zaman kolonial Belanda, dengan rasa dan aroma yang khusus, yang tidak dimiliki oleh lada putih dari tempat / kawasan di dunia. Muntok White Pepper, dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia lada.
Produksi lada putih Indonesia secara keseluruhan, tren yang terus menurun dari 43.500 ton (2000), 35.000 ton (2001), 41.000 ton (2002), 32.000 ton (2003), 25.000 ton (2004), 21.000 ton (2005), 20.000 ton (2006), 21.000 ton (2007), 20.000 ton (2008).
Sedangkan produksi Muntok White Pepper adalah 33.000 ton (2002), 27.000 ton (2003), 20.000 ton (2004), 16.000 ton (2005), 14.000 ton (2006), 14.000 ton (2007), 13.000 ton (2008). Ekspor yang berasal dari Provinsi Bangka Belitung berjumlah 29.448 ton (2002), 21.199 ton (2003), 9.805 ton (2004), 11.568 ton (2005), 10.677 ton (2006), 11.000 ton (2007), 8.500 ton (2008 ).
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam situasi di dekade terakhir ini, produksi merica mengalami kemunduran dari segala aspek. Dalam hal yang paling umum dilihat pada pertanaman yang luas, produksi dan ekspor ada kemunduran yang sangat signifikan, terutama dalam hal inovasi hampir tidak ada kemajuan. Indonesia yang merupakan daerah tropis merica, kondisi ini sangat mengkhawatirkan, terutama bila tidak ada perhatian khusus dari berbagai pihak maka kita akan menjadi importir.
Dalam kenyataan ini dapat dilihat jelas di daerah pusat produksi lada. Provinsi Bangka Belitung lama diketahui bahwa pusat produksi lada putih, kondisi paling pertanaman petani sangat mengkhawatirkan, sangat minimal bahkan tanpa pemeliharaan. Di Propinsi Lampung, yang dikenal sebagai sentra produksi lada hitam, kondisi tidak jauh berbeda dari yang di Bangka Belitung. Beberapa daerah lain yang secara tradisional salah satu produsen lada, seperti Kalimantan Barat sukses kondisi “setali tiga uang.”
Sebagai hasil dari kedua faktor ini, banyak petani meninggalkan tanaman lada dan beralih ke tanaman lainnya, seperti kopi, kakao, karet dan kelapa sawit. Sedangkan tanaman tanaman lada lebih bernilai ecologis sehingga mampu menekan kerusakan lingkungan dibandingkan komoditi laiinya seperti kelapa sawit yang memerlukan radiasi matahari tinggi. Menurut Wahyudi (1989), pada dasarnya tanaman lada tetap dapat memiliki daya saing yang lebih baik daripada banyak tanaman, jika manajemen pengelolaan dapat lebih baik daripada itu. Selain pihak manajemen, kondisi yang mendukung pengembangan lada di Bangka adalah jenis iklim adalah bimodal. Ada 2 puncak musim adalah Januari dan April-Juni. Singkat musim kemarau pada bulan Januari untuk mendorong pembentukan bunga. Yang lebih menarik, akan lebih perkembangan buah lagi pada musim kemarau pada bulan April-Juni, sehingga meningkatkan produktivitas.
Keterkaitan Erat antara Masyarakat, Tanaman Lada Dan Mitigasi, Adaptasi Perubahan Iklim
Jalan keluar dari mengurangi dampak perubahan iklim yaitu mitigasi (pengurangan) dan adaptasi (penyesuaian). Berdasarkan kondisi diatas laju kerusakan lingkungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat mengkhawatirkan akibat aktivitas tambang, kerusakan hutan bahkan bukan tidak mungkin provinsi tersebut dapat tenggelam. Perubahan iklim tidak berdiri sendiri, saling berhubungan dimana fungsi hutan sebagai penyanggah, telah dibabat habis (pembakaran) baik oleh perusahaan maupun masyarakat (cukong) dan aktivitas tambang mengeluarkan karbon dioksida yang notabene memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim.
Untuk itulah peranan masyarakat lokal sangat penting dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim karena masyarakat selama ini memanfaatkan tanah/lahan sebagai satu kesatuan yang disertai dengan tata kelola yang arif diwariskan secara turun temurun atau kearifan lokal. Sementara masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara turun temurun memanfaatkan lahan mereka untuk bercocok tanaman lada ini terbukti telah dikenalnya sejak zaman dahulu kualitas tanaman lada sampai ke manca Negara. Tanaman lada sebagai komoditi ekspor dan lokal mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Semenjak menggaungnya pertambangan Timah, perlahan tanaman tersebut kalah bersaing dengan eksploitasi tambang. Bayangkan jika setiap masyakat Kepulauan Bangka Belitung menanam lada setidaknya 0,5 hektar per kk setidaknya dapat menekan produksi Timah dengan kata lain setiap petani mampu mengurangi efek rumah kaca yang ditimbulkan akibat eksploitasi tambang. Selain itu korelasi tanaman lada tersebut juga mampu menekan laju kerusakan hutan jika pemanfaatan hutan sebagai “kayu” yang diperuntukan untuk bahan bangunan, dikurangi penggunaannya secara bertahap atau perubahan corak produksi dari berkayu menjadi petani lada kembali, pun demikian TI inkonvensional mampu ditekan dengan merubah corak produksi menjadi petani lada. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi contoh/pilot project (merubah pola pikir) budidaya tanaman lada yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Sayangnya sampai hari ini belum ada kebijakan serius pemerintah setempat untuk mengkonservasi eks tambang timah di kepulauan Bangka, pemerintah daerah memanfaatkan lahan eks tambang dengan tanaman keras seperti acacia mangium kemudian ditelantarkan, sebenarnya lokasi eks reklamasi tersebut dapat menjadi lahan tanaman lada dengan pemupukan yang intensif yaitu kompos (sisa sampah organik). Dengan demikian lokasi pilot project tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi daerah-daerah lain dan meluas keseluruh wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Untuk itulah Program ini diharapkan mengembalikan kejayaan tanaman lada setidaknya pada beberapa wilayah project (5 – 10 Ha), sehingga mampu mengurangi dampak peningkatan efek rumah kaca akibat aktivitas tambang dan kerusakan hutan.
Proposal bidang PROYEK FORM
Pada Frontlines dari Perubahan Iklim:
J global forum masyarakat adat, dan pulau-pulau kecil masyarakat Rentan
www.climatefrontlin es.org
Deadline: sebelum atau pada 15 Juli 2009
Memasukkan rincian proyek Anda di bawah ini. Pastikan setiap titik ditujukan. Tulis “N / A” jika anda tidak memiliki informasi yang relevan untuk pasokan.
Informasi kontak Anda
Nama belakang:
FERDIANSIE
Nama depan:
ASPUDA
Pria / wanita:
MALE
Judul posisi / pekerjaan:
PENELITIAN STAF
Email:
alfifernanda@yahoo.id
Lembaga atau organisasi Anda (jika berlaku)
Nama organisasi:
IMPALM
Alamat organisasi:
Jalan Catur Blok E No 23 Sumatera Selatan-Indonesia
Website:
http://www.impalm. org
Jenis Organisasi:
LSM FORUM
Organisasi latar belakang (maksimal 200 kata):
IMPALM didirikan pada tanggal 7 Juli 1977 di Sumatera Selatan, adalah organisasi pecinta alam di kampus Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Selanjutnya berkembang menjadi LSM Forum dan kemudian ke masyarakat luas sebagai fasilitator lebih prihatin terhadap konservasi keanekaragaman hayati dan pusat komunikasi aktivis lingkungan khawatir tentang biologi dan sosial, dengan jumlah anggota aktif 200 orang, yang bekerja meyebar di seluruh wilayah Indonesia.
Proyek Anda
Judul proyek:
Tata Kelola Sebagai Perwujudan Kedaulatan Petani Lada Eks Lahan Tambang Timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Negara atau wilayah di mana proyek ini akan berlangsung:
Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia
Usulan mulai dan tanggal berakhir:
Dimulai pada bulan September sampai Desember 2009 (4 bulan).
Proyek Justification – menjelaskan bagaimana proyek Anda berkaitan dengan perubahan iklim, dampaknya dan adaptasi (maksimal 400 kata):
IMPALM ada dampingan daerah di seluruh Sumatera Selatan, termasuk Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Lampung dan Bangka Belitung. Fokus utama adalah dampingan masyarakat setempat, dengan mata pencaharian tradisional pertanian berbasis keanekaragaman hayati konservasi sumber daya alam. Saat ini adalah membantu masyarakat setempat yang digunakan pasca produksi kemampuan lahan usahataninya, maka agribisnis kopi, kayumanis, arang tempurung, kopra, lada, beras, sabut kelapa, abon ikan patin, kentang merah, gula merah dan bebek peking.
Khusus untuk wilayah Bangka Belitung, pada tingkat pemerintahan lingkungan, tindakan yang akan dilaksanakan program lingkungan pemerintahan tanah bekas tambang timah dengan lada usahatani berbasis konservasi, dimana target tahun 2009 diwujudkan dalam tanah 5 hektar dengan 20 petani, dan pada tahun 2010 realisasi target 10 hektar lahan petani dengan petani dampingan 50.
Tujuan proyek (maksimal 200 kata):
Proyek ini bertujuan untuk:
1. Memberdayakan masyarakat setempat dalam usaha tani lada.
2. Dengan semangat petani untuk meningkatkan produksi penurunan pasca Lada lada.
3. Mereklamasi tanah bekas tambang timah dengan nilai-nilai ekologis dan komoditi ekonomi, maka tanaman lada.
4. Pola pemerintahan menyediakan lingkungan sehingga petani dapat berdaulat di tanah mereka sendiri.
Metode proyek / kegiatan (maksimal 200 kata):
Metode yang digunakan dalam proyek ini adalah:
1. Bantuan.
2. Pelatihan.
3. Memperkuat petani.
4. Lingkungan pemerintahan dan Niaga pasca produksi lada.
Proyek keluaran (maksimal 200 kata):
Proyek ini diharapkan dapat menghasilkan output yaitu:
1. Dapat memberdayakan masyarakat setempat dalam usaha tani lada.
2. Dapat menumbuhkan semangat petani untuk meningkatkan produksi penurunan pasca Lada lada.
3. Dapat mereklamasi lahan bekas tambang timah dengan nilai-nilai ekologis dan komoditi ekonomi, maka tanaman lada.
4. Pola dapat menyediakan lingkungan pemerintahan sehingga petani dapat berdaulat di tanah mereka sendiri.
Daftar mitra lain / kontributor (jika ada):
Daftar mitra / kontributor yang terikat dengan pelaksanaan kegiatan tersebut, antara lain:
1. Konsultan AGRIM di Palembang.
2. PKBL PT. Pertamina Tbk. Regional II.
3. Pemerintah Daerah di Provinsi Bangka Belitung Kepualuan.
4. Paguyuban Petani di Kota Lada Pangkal Pinang, Bangka.
Jumlah yang diminta dari UNESCO (dalam Dolar AS – sampai US $ 5.000):
US $ 5.000
Total anggaran proyek (rincian dana dari sumber lain termasuk dalam jenis (non-Moneter) kontribusi):
Anggaran:
1. Perencanaan = US $ 1,000
(IMPALM US $ 100, AGRIM US $ 100, PKBL US $ 100, UNESCO, US $ 700)
2. Mengorganisir = US $ 1,000
(IMPALM US $ 100, AGRIM US $ 100, PKBL US $ 100, UNESCO, US $ 700)
3. Actuating = US $ 2,000
(IMPALM US $ 100, UNESCO, US $ 1,900)
4. Pengendalian = US $ 1,000
(IMPALM US $ 100, UNESCO, US $ 900)
5. Total = US $ 5000
(IMPALM US $ 400, AGRIM US $ 200, PKBL US $ 200, UNESCO, US $ 4,200)
Yang kegiatan proyek Anda ingin UNESCO untuk mendanai (jika bagian dari proyek yang lebih besar):
Dana dari UNESCO:
1. Perencanaan = US $ 700
2. Mengorganisir = US $ 700
3. Actuating = US $ 1,900
4. Pengendalian = US $ 900
5. Total = US $ 4,200
Bagaimana proyek ini akan membantu Anda mencapai tujuan Forum? (Maksimal 200 kata)
Proyek ini dapat mencapai tujuan dari proyek ini Forum dan output yang diharapkan tercapai, yaitu: selain untuk memberdayakan masyarakat setempat dalam usaha tani lada dan semangat petani untuk meningkatkan produksi penurunan pasca lada merica, juga dapat mendorong upaya-upaya pihak untuk mereklamasi lahan bekas tambang timah komoditi dengan nilai ekonomi dan ekologi, satu dengan tanaman lada, dan dapat memberikan pola pemerintahan lingkungan sehingga petani dapat berdaulat di tanah mereka sendiri.


mmm….
jujur, aku dak th apo2. tp, kalo lht deadline-nyo yg on or before 15 july, proposalnyo lumayan. good luck for all….
Intinya adalah Tata kelola masyarakat yang kemudian mampu bernilai ekonomis dan ekologis…
Silahkan ditanggapi