Bertani Organis Hemat Tenaga

Bertani Organis Hemat Tenaga
Catatan Berkebun: Syam Asinar Radjam*

syam-permaculture Banyak yang enggan kembali ke pertanian organis. Alasannya, repot dan perlu banyak tenaga. Oh ya?

Saya baru saja melakukan sebuah “proyek suka-suka”. Di kebun kami ada satu petak lahan yang sudah sangat kurus. Di atas lahan itu saya buat lima bedengan (bed) permanen. Tiap bedengan berukuran 1 x 10 m.

Semula ingin membuat bedengan permanen berdinding semen. Untuk menghemat biaya, dinding bedengan dibuat dengan genteng bekas.

Lahan yang dibuat bedengan tidak dicangkul. Hanya digali dengan garpu. Tanah diaduk dengan satu ember (ukuran 10 liter) pupuk kandang. Di atasnya kemudian ditebar sampah organis. Mulai dari dedaunan kering, jerami, dan sisa potongan sayur, tentu terdapat pula kulit telur, nasi basi, ampas kopi dan lainnya.

Semua sampah organik itu diharapkan kelak terdekomposisi menjadi rabuk. Sementara waktu ia berfungsi sebagai penutup tanah atau mulsa (mulches). Manfaatnya, mulai dari menekan pertumbuhan gulma hingga mempertahankan kelembaban tanah (menahan laju penguapan air).

Gilir pertama saya tanami semua petak dengan:
Petak 1: Lobak lokal (utama) + Okra
Petak 2: Kacang panjang + kacang hijau
Petak 3: Tomat Cherry
Petak 4: Jagung manis + Buncis lokal
Petak 5: Tanaman khusus pupuk hijau

Pada gilir pertama, yang tumbuh baik hanya tanaman di petak 1 dan 3. Sisanya, bisa disebut gagal.

Gilir kedua, saya mengganti pola tanam dengan tetap memasukkan sampah organis di atas lahan. Tanpa tambahan pupuk, tapi dengan pembagian tanaman yang lebih terkelompok. Kelak ini akan menjadi pola pergiliran (crops rotation): legume -> sesayur umbi -> sesayur buah -> sesayur daun

Petak 1: Orok-orok atau chrotalaria (jenis legume)
Petak 2: lobak (sesayur umbi
Petak 3: jagung (sesayur buah)
Petak 4: Selada (sesayur daun)
Petak 5: Cabai kopay (hanya sebagai tambahan)

Gilir Kedua ini yang gagal hanya selada. Diperkirakan karena bibit sudah kadaluarsa. Teman-teman petani sekitar mengagumi petak 3. Menurut pengalaman mereka, jagung selalu tidak tumbuh baik tanpa pupuk kimia. Tapi di lahan percobaan yang saya sebut kebun genteng ini, penampilan fisik jagung sama baik dengan yang digarap secara intensif.

Dengan “proyek suka-suka” ini saya mendapati dua hal. Pertama, dalam pertanian organis yang terpenting adalah membangun kembali kesuburan tanah.

Kedua, bertani secara organis memerlukan sedikit sekali tenaga. Pada gilir kedua, pekerjaan yang saya lakukan hanya meletakkan benih di lahan, dan menambah sedikit sampah di atas lahan. Tidak ada pekerjaan membuat kompos, penyiangan. Bahkan bila menanam pada musim basah, tidak perlu menyiram sama sekali.

Artinya bukan hanya hemat tenaga. Tetapi pula hemat biaya. Asalkan, kesuburan lahan sudah terbangun.* * *

* Syam Asinar Radjam adalah anggota IMPALM, pelaku pertanian organis terpadu di Sukabumi Jawa Barat.

5 Responses to “Bertani Organis Hemat Tenaga”

  1. Terima kasih untuk blog yang menarik

  2. Bung Saiful, Terima kasih atas kunjungan dan saran anda. Saya sudah lihat pula beberapa informasi menarik dari blog anda. Salam Organis!

  3. Maksih atas infonya. anda sudah berusaha untuk ikut berpartisipasi ke Pertanian Organik
    Moga hasil jerih payah anda layak di hargai.
    Kerjakan terus dan berinovasi ke arah lebih maju
    Bila ad waktu kunjungi blog aku/
    Dan anda perlu menghitung ulang kajian ekonomi.
    Aku bisa bantu
    Moga ini awal kita berkomunikasi
    Salam sukses slalu

  4. Thanks for posting about this, I would love to read more about this topic.

  1. Tanpa Pupuk Sesayur Tumbuh Subur | dusunlaman
Leave a Reply

RSS for Posts RSS for Comments