Belajar Adil Melalui Bertani Organis

Belajar Adil Melalui Bertani Organis
Catatan Berkebun: Syam Asinar Radjam*

organisSemua orang menuntut keadilan. Sementara keadilan sendiri tampak seperti sesuatu yang tak jelas. Dan saya belajar adil melalui bertani organis. Setidaknya adil bagi tanah dan tetumbuhan.

Bila suatu lahan ditanami ketela pohon alias ubi kayu alias singkong alias sampeu alias Manihot utillissima, lahan itu akan terkuras kesuburannya. Demikian dipercaya banyak orang.

Ada suatu kabar lain tentang tumbuhan ini. Bila kacang-kacangan (legume) yang akarnya dipercaya membuat tanah kaya bakteri rizobium yang bisa menambat nitrogen, ketela pohon konon melakukan hal serupa. Hanya bakterinya berbeda; Mikoriza.

Persoalannya ada pada pergiliran tanaman dan keadilan pada tanah. Tanah akan kurus, tersedot kesuburannya bila ditanami satu jenis tanaman secara terus menerus.

Ditambah lagi dengan ketidakadilan manusia pada tanah yang ada di lahan. Berharap menghasilkan misal 1 ton hasil buah, tetapi menggantinya dengan sujumput asupan, sumber hara bagi tanaman. Kian parah adalah ketika asupan hanya berupa bahan kimia buatan yang justru merusak sifat fisis dan biologis tanah.

Bertani organis mengajarkan petani untuk adil pada tanah. Tanah mempersembahkan bahan makanan pada manusia melalui tetumbuhan. Bisa dalam bentuk buah, umbi, daun, bahkan bunga. Berton-ton beras dari mengolah tanah. Tapi apa yang yang diberikan kembali pada tanah?

Dalam sebuah buku pertanian modern yang saya baru intip, setiap 1 hektar sawah dapat menghasilkan 4,8 – 6 ton padi. Kebaikan hati tanah itu cukup diganti dengan 200 kg urea, 75 -100 kg pupuk SP-36 dan 75 -100 kg pupuk KCl untuk setiap hektar. Bahkan cuma diberi 300 kg, bila diganti dengan pupuk majemuk (N-P-K) berperbandingan 15:15:15.

Dapat 6 ton, beri 3 kwintal. Bukan bahan organis pula. Sudah begitu, jeraminya dibakar. Padahal, pertanian organis, menekankan pada pengembalian atas apa yang diambil. Sedapat mungkin berbobot setara. Tinggal manfaatkan saja jerami, sisa pangkasan gulma, pupuk kandang, sampah dapur, banyak lagi pilihan lainnya. Asalkan, bahan organik.

* Syam Asinar Radjam adalah anggota IMPALM, pelaku pertanian organis terpadu di Sukabumi Jawa Barat.

There are no responses yet

Leave a Reply

RSS for Posts RSS for Comments