
kompos aduk-aduk aja
“ASTAGA! PETANI TAK BISA BIKIN PUPUK ORGANIK!” pekik sahabat saya, Firman Seponada, di kompasiana. Ia mencatat potret riil sebagian besar kaum tani Indonesia terkini. Sekali lagi petani memang sedang dijerembabkan ke kondisi yang sulit. Diluar ketiadaan lahan akibat perampasan dan janji pembaruan agrarian yang selalu melintir, dan kini harga pupuk di pasaran melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi*. Halah!
Pupuk yang harganya melambung di pasaran berasal dari jenis pupuk an-organis yang sudah terlanjur menjadi candu lantaran rezim “revolusi hijau” di masa orde baru. Pada gilirannya, rezim ini menjauhkan petani dari pengetahuan lokal dan kearifan tradisional yang telah tumbuh sedari lama.
Maka jangan heran bila dari mulut seorang petani terdengar komentar, “Bikin kompos?! Caranya?!”
Selain ketidaktahuan atas cara membuat kompos, menukar-pakai pupuk ajaib nan beracun dengan pupuk alami (organis) menyembunyikan keengganan dan keraguan. Enggan karena volume bahan maupun volume kerja butuh lebih tinggi. Ragu karena tak yakin hasil panen akan lebih baik.
Bual kali ini belum hendak menyoal keengganan serta keraguan. Hanya sebuah simbat untuk melengkapi catatan kawan Firman Seponada, Astaga! Petani Tak Bisa Bikin Pupuk Organik!
Membuat kompos atau pupuk cair sebenarnya hanya perlu kerelaan. Selebihnya bahan ada di sekitar kita. Sisa potongan sayur di dapur, “limbah” hasil panen seperti (jerami, kulit jagung, dll), atau kotoran ternak di kandang, dedaunan kering atau dedaunan basah yang sengaja dikumpulkan (sebaiknya ada daun keluarga kacang-kacangan). Aduk-aduk aja! Jadi!
Tak perlu bakteri pengurai khusus macam yang ada di pasaran? Ada banyak mitos dalam pembuatan kompos. Pada kesempatan lain, kelak mungkin saya berbual tentang mitos ini satu-satu. Salah satu mitos adalah perlunya bio-aktivator khusus dalam membuat kompos. Di pasaran tersedia dalam banyak jenis dan merk. Dulu, saya pernah coba beberapa.
Bio-aktivator dalam pengertian pasar, adalah bakteri pengurai khusus yang berfungsi macam ragi atau starter atau biang kompos. Jadi, sebenarnya bintang utama dalam proses pengomposan adalah bakteri-pengurai. Bakteri pengurai sebenarnya mudah ditemui dimana-mana dan gampang didapat.
Di kebun, pada setiap petak tanah yang sehat mungkin terdapat lebih dari 6,7 triliun jasad renik pengurai bahan organis, yang bisa dijadikan biang kompos. Penanda paling gampang untuk mengetahui tanah sehat yang akan dijadikan biang kompos, di dalamnya banyak terdapat cacing di sana dan jauh dari aliran atau tempat buangan bahan kimia.
Konon, setiap satu sendok tanah subur mengandung jutaan mikroorganisme pengurai bahan organik.Tidak percaya?Coba letakkan daun-daun kering di sana, beberapa waktu kemudian ia akan terurai.
Supaya proses pengomposannya sempurna, maka perlu sedikit perlakuan tambahan. Misalkan cuma hanya punya jerami, daun kacang-kacangan, dan sedikit pupuk kandang.
Semua bahan ditebar pada bentang katakanlah 2 x 5 meter.
– Paling bawah, jerami. Tebar hingga setebal 30 cm.
- Tebar tanah sehat di atas jerami. Secukupnya 1 liter tanah (+/- satu gayung) untuk tiap bentang 1 meter persegi.
- Lapisi dengan pupuk kandang. Bila punya banyak, bisa dilanjut hingga setebal 30 cm. Bila punya sedikit 1 ember ukuran sedang untuk tiap 10 meter persegi juga tak apa.
- Tebar tanah sehat dengan takaran yang sama sebelumnya.
- Lapisi lagi dengan jerami atau dedaunan lain.
- Tebar tanah sehat dengan takaran yang sama sebelumnya.
- Dan seterusnya, hingga lapisan semua bahan organis yang hendak dikomposkan mencapai lebih 1,5 meter. Kenapa 1,5 meter? Supaya hampir sama tinggi dengan petaninya, ha ha!
Bila tumpukan ini diletakkan di halaman terbuka, pada lapisan teratas adalah jerami dengan posisi agak mbelendung. Tujuannya, supaya sekalian mengatapi sekaligus memudahkan air yang turun terbuang.
Bila sempat, aduk-aduk aja setiap satu pekan sekali. Bila tak sempat… biarkan. Proses penguraian atau proses bahan proses dekomposisi tetap berlangsung.
Lama waktu “pembuatan” kompos “aduk-aduk aja” ini sekurangnya 3 bulan. Ada yang lebih cepat? Banyak! Tapi sangat cepat, misal kompos ekspress yang digembar-gemborkan jadi dalam 7 hari… adalah satu mitos tersendiri.
Pelan-pelan saja. Tiga bulan Lebih dari sekadar cukup untuk petani yang menanduri padi di sawahnya 2 kali setahun. Bahkan tak menghalangi proses menanam padi 3 kali setahun.
Supaya tak terlalu panjang terlalu lebar, salah satu cara membuat Pupuk Organic Cair secara mudah, saya lampirkan dalam gambar di bawah tulisan ini.
Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terutama untuk kawan-kawan ingin menyebarkan bual ini ke petani sekitar rumah masing-masing.
[SyamAR; LeBul, 20 April 2010]
