Hasil Polling Waktu Pelaksanaan HUT IMPALM ke-33

Berdasarkan polling  tanggal 17 Mei – 31 Mei 2010 mengenai waktu pelaksanaan HUT IMPALM ke-33, maka disampaikan data-data sebagai berikut:

1. Polling diikuti oleh 17 anggota dari 285 anggota Impalm (5,97%) atau 18,89% dari anggota yang biasa online (data melalui facebook yang terkumpul oleh Erni sebanyak sekitra 90 anggota online).

2. Hasil polling adalah sebagai berikut:

- Tanggal 7 Juli 2010 (1 day)                : 2 voter (11,77%)

- Tanggal 7 – 8 Juli 2010 (2 days)       : 2 voter (11,77%)

- Tanggal 10 Juli 2010 (1 day)             : 1 voter (5,88%)

- Tanggal 10-11 Juli 2010 (2 days)    : 12 voter (70,58%)

Lebih lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Answer 1: 7 Juli 2010 (Total No.: 2)
No. User IP/Host Date
1 Guest 110.137.150.144 May 17, 2010 @ 1:44 pm
2 Guest 114.58.210.61 May 19, 2010 @ 2:14 pm
Answer 2: 7 – 8 Juli 2010 (Total No.: 2)
No. User IP/Host Date
1 Guest 125.165.180.115 May 17, 2010 @ 2:05 pm
2 Guest 110.137.148.126 May 18, 2010 @ 4:21 pm
Answer 3: 10 Juli 2010 (Total No.: 1)
No. User IP/Host Date
1 Guest 110.137.235.227 May 17, 2010 @ 8:04 pm
Answer 4: 10 – 11 Juli 2010 (Total No.: 12)
No. User IP/Host Date
1 Abaz 114.79.55.10 May 17, 2010 @ 1:34 pm
2 Badrul Jamalali (B.155JDS-IMP.1987) 110.137.149.38 May 17, 2010 @ 4:19 pm
3 chandot 110.137.116.130 May 22, 2010 @ 9:16 pm
4 Erni 202.70.54.129 May 17, 2010 @ 7:27 pm
5 Guest 202.70.51.73 May 17, 2010 @ 1:37 pm
6 Guest 125.162.119.25 May 17, 2010 @ 1:44 pm
7 Guest 10.10.38.2 May 17, 2010 @ 2:07 pm
8 Guest 182.1.255.232 May 17, 2010 @ 2:59 pm
9 Guest 202.70.51.36 May 17, 2010 @ 5:43 pm
10 Guest 182.1.217.47 May 17, 2010 @ 8:33 pm
11 Guest 61.94.151.14 May 17, 2010 @ 9:06 pm
12 Guest 118.137.116.90 May 26, 2010 @ 2:48 am
Total number of records that matches this filter: 17


Polling: Lokasi Pelaksanaan HUT IMPALM ke-33

Seperti dijanjikan sebelumnya, maka Panitia HUT IMPALM ke-33 kembali mengadakan polling mengenai lokasi pelaksanaan HUT IMPALM ke-33.

Polling di sidebar yang ada di sebelah kanan ini akan dijadikan dasar panitia HUT Impalm ke-33 dalam menentukan lokasi pelaksanaan HUT.  Penetapan pilihan polling ini didasarkan hasil pertemuan tanggal 15 Mei 2010 di Palembang yang dihadiri oleh anggota Impalm. Ada tiga pilihan lokasi, yaitu:

1. Di Rumah Salah Satu Anggota IMPALM; ini didasari dari penawaran Kanda Syamsurrizal Muchtar untuk menggunakan rumah beliau di Polygon. Atau ada usul lain.

2. Gedung Pasca Sarjana UNSRI; berdasarkan historis IMPALM. Bila pihak Pasca Sarjana tidak mengizinkan, maka kita cuma bernostalgia di Pasca Sarjana, tetapi perayaan dilakukan di Mess Sriwijaya UNSRI (di samping pasca sarjana).

3. Ruang Terbuka; lokasi ditentukan kemudian, acara: camping.

Polling dibuka mulai tanggal 01 Juni 2010, pukul 00.00 WIB dan akan ditutup tanggal 10 Juni 2010 pukul 24.00 WIB.

Polling ini ditujukan kepada semua anggota Impalm. Polling ini akan mendeteksi IP pemilih, sehingga 1 IP hanya bisa memilih 1 kali dengan harapan tidak terjadi pemilihan berkali-kali oleh 1 member.

Jadwal Acara  Ultah juga akan divote melalui polling yang akan segera diluncurkan di website ini juga.

Hasil polling Waktu Pelaksanaan HUT IMPALM ke-33 akan disiarkan pada website ini juga.

Polling Waktu Pelaksanaan HUT Impalm ke-33

Polling di sidebar yang ada di sebelah kanan ini akan dijadikan dasar panitia HUT Impalm ke-33 dalam menentukan waktu pelaksanaan HUT.  Penetapan pilihan polling ini didasarkan hasil pertemuan tanggal 15 Mei 2010 di Palembang yang dihadiri oleh anggota Impalm. Ada empat pilihan, yaitu:

1. Tanggal 7 Juli 2010

2. Tanggal 7 – 8 Juli 2010

3. Tanggal 10 Juli 2010

4. Tanggal 10 – 11 Juli 2010

Polling dibuka mulai tanggal 17 Mei 2010 dan akan ditutup tanggal 31 Mei 2010 pukul 24.00 WIB.

Lokasi pelaksanaan Ultah juga akan divote melalui polling yang akan segera diluncurkan di website ini juga.

Polling ini ditujukan kepada semua anggota Impalm. Polling ini akan mendeteksi IP pemilih, sehingga 1 IP hanya bisa memilih 1 kali dengan harapan tidak terjadi pemilihan berkali-kali oleh 1 member.

Kompos 3 A [Aduk-Aduk Aja]

kompos aduk-aduk aja

“ASTAGA! PETANI TAK BISA BIKIN PUPUK ORGANIK!” pekik sahabat saya, Firman Seponada, di kompasiana. Ia mencatat potret riil sebagian besar kaum tani Indonesia terkini. Sekali lagi petani memang sedang dijerembabkan ke kondisi yang sulit. Diluar ketiadaan lahan akibat perampasan dan janji pembaruan agrarian yang selalu melintir, dan kini harga pupuk di pasaran melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi*. Halah!

Pupuk yang harganya melambung di pasaran berasal dari jenis pupuk an-organis yang sudah terlanjur menjadi candu lantaran rezim “revolusi hijau” di masa orde baru. Pada gilirannya, rezim ini menjauhkan petani dari pengetahuan lokal dan kearifan tradisional yang telah tumbuh sedari lama.

Maka jangan heran bila dari mulut seorang petani terdengar komentar, “Bikin kompos?! Caranya?!”

Selain ketidaktahuan atas cara membuat kompos, menukar-pakai pupuk ajaib nan beracun dengan pupuk alami (organis) menyembunyikan keengganan dan keraguan. Enggan karena volume bahan maupun volume kerja butuh lebih tinggi. Ragu karena tak yakin hasil panen akan lebih baik.

Bual kali ini belum hendak menyoal keengganan serta keraguan. Hanya sebuah simbat untuk melengkapi catatan kawan Firman Seponada, Astaga! Petani Tak Bisa Bikin Pupuk Organik!

Membuat kompos atau pupuk cair sebenarnya hanya perlu kerelaan. Selebihnya bahan ada di sekitar kita. Sisa potongan sayur di dapur, “limbah” hasil panen seperti (jerami, kulit jagung, dll), atau kotoran ternak di kandang, dedaunan kering atau dedaunan basah yang sengaja dikumpulkan (sebaiknya ada daun keluarga kacang-kacangan). Aduk-aduk aja! Jadi!

Tak perlu bakteri pengurai khusus macam yang ada di pasaran? Ada banyak mitos dalam pembuatan kompos. Pada kesempatan lain, kelak mungkin saya berbual tentang mitos ini satu-satu. Salah satu mitos adalah perlunya bio-aktivator khusus dalam membuat kompos. Di pasaran tersedia dalam banyak jenis dan merk. Dulu, saya pernah coba beberapa.

Bio-aktivator dalam pengertian pasar, adalah bakteri pengurai khusus yang berfungsi macam ragi atau starter atau biang kompos. Jadi, sebenarnya bintang utama dalam proses pengomposan adalah bakteri-pengurai. Bakteri pengurai sebenarnya mudah ditemui dimana-mana dan gampang didapat.

Di kebun, pada setiap petak tanah yang sehat mungkin terdapat lebih dari 6,7 triliun jasad renik pengurai bahan organis, yang bisa dijadikan biang kompos. Penanda paling gampang untuk mengetahui tanah sehat yang akan dijadikan biang kompos, di dalamnya banyak terdapat cacing di sana dan jauh dari aliran atau tempat buangan bahan kimia.

Konon, setiap satu sendok tanah subur mengandung jutaan mikroorganisme pengurai bahan organik.Tidak percaya?Coba letakkan daun-daun kering di sana, beberapa waktu kemudian ia akan terurai.

Supaya proses pengomposannya sempurna, maka perlu sedikit perlakuan tambahan. Misalkan cuma hanya punya jerami, daun kacang-kacangan, dan sedikit pupuk kandang.

Semua bahan ditebar pada bentang katakanlah 2 x 5 meter.

    – Paling bawah, jerami. Tebar hingga setebal 30 cm.
    - Tebar tanah sehat di atas jerami. Secukupnya 1 liter tanah (+/- satu gayung) untuk tiap bentang 1 meter persegi.
    - Lapisi dengan pupuk kandang. Bila punya banyak, bisa dilanjut hingga setebal 30 cm. Bila punya sedikit 1 ember ukuran sedang untuk tiap 10 meter persegi juga tak apa.
    - Tebar tanah sehat dengan takaran yang sama sebelumnya.
    - Lapisi lagi dengan jerami atau dedaunan lain.
    - Tebar tanah sehat dengan takaran yang sama sebelumnya.
    - Dan seterusnya, hingga lapisan semua bahan organis yang hendak dikomposkan mencapai lebih 1,5 meter. Kenapa 1,5 meter? Supaya hampir sama tinggi dengan petaninya, ha ha!

Bila tumpukan ini diletakkan di halaman terbuka, pada lapisan teratas adalah jerami dengan posisi agak mbelendung. Tujuannya, supaya sekalian mengatapi sekaligus memudahkan air yang turun terbuang.

Bila sempat, aduk-aduk aja setiap satu pekan sekali. Bila tak sempat… biarkan. Proses penguraian atau proses bahan proses dekomposisi tetap berlangsung.

Lama waktu “pembuatan” kompos “aduk-aduk aja” ini sekurangnya 3 bulan. Ada yang lebih cepat? Banyak! Tapi sangat cepat, misal kompos ekspress yang digembar-gemborkan jadi dalam 7 hari… adalah satu mitos tersendiri.

Pelan-pelan saja. Tiga bulan Lebih dari sekadar cukup untuk petani yang menanduri padi di sawahnya 2 kali setahun. Bahkan tak menghalangi proses menanam padi 3 kali setahun.

Supaya tak terlalu panjang terlalu lebar, salah satu cara membuat Pupuk Organic Cair secara mudah, saya lampirkan dalam gambar di bawah tulisan ini.

Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terutama untuk kawan-kawan ingin menyebarkan bual ini ke petani sekitar rumah masing-masing.

[SyamAR; LeBul, 20 April 2010]

Cara Mudah Membuat Pupuk Organik Cair

Sosialisasi Program TFCA KEHATI

Palembang, Sumatera Selatan 30 April 2009

Berdasarkan informasi yang diterima dari kakanda Syamsurrizal Mukhtar bahwa akan ada sosialisasi Program TFCA – Indonesia yang dimotori oleh KEHATI. TFCA merupakan Program Pelestarian Hutan Tropis Sumatera yang diambil dari dana hibah berupa pengelolaan kawasan konservasi, training maupun endowment fund untuk konservasi kawasan hutan, dana ini merupakan kompensasi pembayaran hutang Indonesia.

Laju deforestasi pulau Sumatera termasuk tinggi dengan tutupan hutan tinggal 29% padahal Sumatera diperkirakan membutuhkan tutupan lahan minimal 40% agar seimbang; ekologi, social dan ekonomi. Selain itu Kawasan konservasi di Sumatera yang ada belum mampu melindungi keanekaragaman hayati dan dalam posisi yang terfragmentasi dan tidak berhubungan satu dengan lainnya. Untuk itulah Sumatera dianggap sangat penting untuk menerima program dana hibah ini.

Yang menjadi prioritas Hibah yaitu hutan dengan tingkat ancaman yang tinggi yang memerlukan penanganan segera dan terintegrasi, dampak konservasi dari intervensi tersebut sangat signifikan, multi stakeholder efforts. Lokasi sementara yang menjadi basis program yaitu kawasan taman nasional diantaranya :

  1. Batang Gadis National Park
  2. Angkola Ecosystem
  3. Batang Toru Forest Range
  4. Western Toba Watershed
  5. Seulawah Heritage Forest
  6. Leuser Ecosystem
  7. Bukit Tiga Puluh National Park
  8. Tesso Nilo Ecosystem
  9. Kerinci Seblat National Park
  10. Siak Kampar Peninsula
  11. Siberut & Mentawai Island
  12. Bukit Barisan Selatan Forest National Park
  13. Way Kambas National Park
RSS for Posts RSS for Comments